Kebijakan baru pemerintah Amerika Serikat yang menaikkan
biaya visa H-1B telah memicu reaksi keras dari pemerintah India. Visa H-1B,
yang selama ini menjadi jalur utama bagi tenaga kerja terampil dari India untuk
bekerja di perusahaan teknologi Amerika, kini menjadi lebih mahal dan sulit
diakses. Pemerintah India menyebut kebijakan ini berpotensi menimbulkan
“konsekuensi kemanusiaan” dan mengganggu hubungan bilateral antara kedua
negara.
Artikel ini akan membahas secara lengkap latar belakang
kebijakan baru AS, dampaknya terhadap pekerja India, reaksi pemerintah India,
serta potensi dampak ekonomi dan diplomatik yang lebih luas.
Apa Itu Visa H-1B?
Visa H-1B adalah jenis visa non-imigran yang memungkinkan
perusahaan di Amerika Serikat untuk mempekerjakan tenaga kerja asing dalam
bidang keahlian khusus, seperti teknologi informasi, teknik, kedokteran, dan
keuangan. Setiap tahun, ribuan profesional dari India mendapatkan visa ini
untuk bekerja di perusahaan-perusahaan besar seperti Google, Microsoft, Amazon,
dan lainnya.
India merupakan negara dengan jumlah pemegang visa H-1B
terbanyak di dunia. Menurut data resmi, lebih dari 70% dari total visa H-1B
yang dikeluarkan setiap tahun diberikan kepada warga negara India.
Kebijakan Baru Pemerintah AS: Kenaikan Biaya dan Proses
yang Lebih Ketat
Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan kebijakan baru
yang menaikkan biaya pengajuan visa H-1B secara signifikan. Selain itu, proses
seleksi dan verifikasi juga diperketat. Tujuan utama dari kebijakan ini adalah
untuk melindungi tenaga kerja lokal dan mengurangi ketergantungan terhadap
tenaga kerja asing.
Namun, kebijakan ini langsung menuai kritik dari berbagai
pihak, termasuk perusahaan teknologi di AS yang sangat bergantung pada tenaga
kerja asing, serta pemerintah India yang melihatnya sebagai langkah
diskriminatif dan tidak adil.
Reaksi Pemerintah India: Peringatan Kemanusiaan dan
Diplomatik
Pemerintah India menyampaikan keprihatinan mendalam
terhadap kebijakan baru tersebut. Dalam pernyataan resminya, India menyebut
bahwa kenaikan biaya visa H-1B akan berdampak langsung pada ribuan keluarga
India yang bergantung pada pekerjaan di Amerika Serikat.
“Ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal
kemanusiaan. Banyak keluarga akan terpisah, banyak anak-anak akan kehilangan
akses pendidikan, dan banyak profesional akan kehilangan mata pencaharian
mereka,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri India.
India juga memperingatkan bahwa kebijakan ini bisa
merusak hubungan bilateral antara kedua negara, terutama di bidang perdagangan
dan teknologi.
Dampak Terhadap Pekerja India: Ancaman Terhadap
Stabilitas Karier
Bagi pekerja India, visa H-1B bukan hanya tiket untuk
bekerja di luar negeri, tetapi juga jalan menuju stabilitas karier dan
kehidupan yang lebih baik. Kenaikan biaya dan proses yang lebih rumit membuat
banyak calon pekerja merasa terancam.
Beberapa dampak langsung yang dirasakan antara lain:
- Biaya
pengajuan visa yang meningkat drastis, membuat banyak keluarga tidak mampu
membiayai proses aplikasi.
- Proses
seleksi yang lebih ketat, menyebabkan banyak aplikasi ditolak meskipun
memenuhi syarat.
- Ketidakpastian
status hukum, membuat pekerja dan keluarganya hidup dalam tekanan
psikologis.
- Ancaman
deportasi, bagi mereka yang tidak bisa memperpanjang visa tepat waktu.
Perusahaan teknologi di Amerika Serikat juga menyuarakan
kekhawatiran mereka. Banyak dari mereka sangat bergantung pada tenaga kerja
asing, terutama dari India, untuk mengisi posisi teknis dan spesialis yang
sulit dipenuhi oleh tenaga kerja lokal.
Kebijakan baru ini berpotensi menyebabkan:
- Kekurangan
tenaga kerja terampil, yang bisa menghambat inovasi dan produktivitas.
- Kenaikan
biaya operasional, karena perusahaan harus mencari alternatif tenaga kerja
yang lebih mahal.
- Penurunan
daya saing global, karena perusahaan teknologi AS bisa kalah bersaing
dengan perusahaan dari negara lain yang lebih terbuka terhadap tenaga
kerja asing.
Hubungan antara India dan Amerika Serikat selama ini
cukup erat, terutama dalam bidang teknologi, pendidikan, dan perdagangan.
Kebijakan visa yang lebih ketat bisa menjadi batu sandungan dalam hubungan
bilateral tersebut.
India bisa mengambil langkah-langkah balasan, seperti:
- Membatasi
akses perusahaan AS ke pasar India.
- Meninjau
kembali kerja sama teknologi dan pendidikan.
- Mendorong
tenaga kerja India untuk mencari peluang di negara lain seperti Kanada,
Australia, atau Uni Eropa.
Pemerintah India berharap agar Amerika Serikat
mempertimbangkan kembali kebijakan tersebut dan membuka ruang dialog untuk
mencari solusi yang lebih adil. Beberapa solusi yang diusulkan antara lain:
- Penurunan
biaya visa bagi negara mitra strategis seperti India.
- Pengecualian
bagi pekerja di sektor kritis seperti teknologi dan kesehatan.
- Perbaikan
sistem seleksi agar lebih transparan dan efisien.
Kebijakan baru pemerintah Amerika Serikat yang menaikkan
biaya visa H-1B telah menimbulkan kekhawatiran besar di India. Pemerintah India
memperingatkan bahwa kebijakan ini bisa menimbulkan konsekuensi kemanusiaan
yang serius dan merusak hubungan bilateral antara kedua negara.
Bagi pekerja India, visa H-1B adalah harapan untuk
kehidupan yang lebih baik. Kenaikan biaya dan proses yang lebih ketat membuat
banyak dari mereka terancam kehilangan pekerjaan dan masa depan. Perusahaan
teknologi AS juga menghadapi risiko kekurangan tenaga kerja terampil.
Dialog dan kerja sama antara kedua negara sangat dibutuhkan untuk menemukan solusi yang adil dan berkelanjutan. Jika tidak, kebijakan ini bisa menjadi awal dari ketegangan diplomatik dan penurunan daya saing global Amerika Serikat.

